Dan shen 1

danshengoji-729x90

Friday, 16 April 2010

CARA SEDERHANA PEDULI LINGKUNGAN

Berkendara Sambil Kurangi Pencemaran
Coba ingat-ingat lagi kabin mobil Anda. Sudah adakah kotak sampah di sana? Semoga saja ada, karena benda kecil ini bisa menjadi indikator seberapa besar kepedulian pemiliknya terhadap lingkungan, sehingga tidak terbiasa melempar sampah berupa kertas, plastik atau bahkan puntung rokok yang masih menyala ke jalan raya.

Kesadaran tentang lingkungan memang perlu kita tingkatkan.sebagai pengendara kita dapat berperan serta mengurangi polusi. Selain tidak membuang sampah sembarangan, juga dengan menekan polusi dari gas buang. Misalnya, dengan menerapkan eco driving seperti poin-poin berikut ini. Hasilnya juga dapat kita rasakan ke konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) mobil kita yang semakin irit.

1. Hindari menginjak pedal gas dengan cara menghentak
Injakan harus stabil dan bertahap agar BBM yang dihisap/di-supply ke ruang bakar sesuai dengan yang dibutuhkan. Pasokan BBM yang terlalu banyak menyebabkan pemborosan.

2. Pindahkan gigi persneling sesuai RPM kendaraan
Saat memindahkan persneling, alangkah baiknya pada rpm (rotate per minute) di mana tercapai torsi tertinggi. Spesifikasi dan keterangan tentang rpm dapat dilihat pada brosur kendaraaan. Kebiasaan lain yang seringkali dilupakan pengendara adalah: tidak segera menyesuaikan persneling setelah menurunkan kecepatan (deselerasi). Pemakaian gigi yang tinggi pada kecepatan rendah akan membuat mesin dan transmisi bekerja lebih berat serta membuat bahan bakar lebih boros. Sebaiknya, setelah berlari kencang tiba-tiba harus ngerem mendadak, pindahkan perseneling ke posisi lebih rendah.

3. Servis berkala dan uji emisi
Untuk poin ini, silakan cari informasi dan hadiri event "Save Our World" yang dikenal dengan TOYOTA MOBILKU oleh Agung Automall adakan. Di event ini, mobil-mobil Toyota dapat menikmati Uji Emisi Gratis. Dari uji emisi akan ketahuan kadar emisi gas buang. Apabila hasil pemeriksaan gas buang menunjukkan nilai HC (hidrokarbon) dan CO (karbonmonoksida) terlalu tinggi, ini pertanda pembakaran di ruang bakar tidak sempurna, dan sudah pasti polutan yang dibuang lewat knalpot lebih tinggi. Boros atau tidaknya konsumsi BBM juga ditentukan oleh kondisi komponen-komponen mesin. Komponen mesin yang sudah banyak mengalami keausan/ kerusakan bisa menyebabkan pembakaran BBM tidak sempurna. Lakukan perawatan mesin secara rutin. Perhatikan juga komponen-komponen pada penggerak roda seperti kopling, bearing (roda), kopel (propeler shaft), as roda, dan roda. Bila komponen-komponen penggerak roda ini aus atau rusak, akan menyebabkan tenaga yang dihasilkan oleh mesin untuk mendorong mobil terbuang percuma.

4. Perhatikan beban mesin
Faktor lain yang menentukan konsumsi BBM adalah beban yang harus ditanggung mesin. Usahakan tidak mengangkut muatan yang tidak diperlukan (overload), karena semakin berat beban, semakin besar konsumsi BBM.

5. Rencanakan perjalanan
Yang tidak boleh dilupakan adalah kemampuan pengendara untuk mengantisipasi dan menghindari kemacetan. Berkendara di tengah kemacetan sangat tidak efektif dan boros BBM.

Mari Ikut Menekan Emisi Gas Buang
Tingkat pencemaran udara sudah sangat mencemaskan. Data penelitian yang pernah dilakukan SwissContact untuk kasus udara Jakarta misalnya menyebutkan bahwa emisi gas buang kendaraan menyumbang 70% pencemaran udara. SwissContact adalah lembaga yang banyak mengkampanyekan udara bersih.

Dari sisi teknologi, pabrikan mobil sudah berusaha menekan efek buruk gas buang kendaraan. Sekarang dapat kita temui mobil-mobil yang dilengkapi dengan VVT-i, Catalytic Converter, atau Exhaust Gas Recirculation (EGR), bahkan sistem Electronic Fuel Injection. Semua diperuntukkan agar emisi gas buang jauh lebih ramah lingkungan.

Di samping kepedulian pabrikan, pemilik mobil yang tidak dilengkapi komponen-komponen seperti di atas pun sebetulnya tetap dapat membantu menekan tingkat pencemaran udara. Misalnya melalui penyetelan-penyetelan, perawatan kondisi komponen-komponen dan gaya berkendara.

Adapun penyetelan yang bisa dilakukan untuk mengurangi emisi adalah:

1. Emisi: Dapat dilakukan dengan mengatur campuran udara dan bahan bakar saat idle. Gunakan idle mixture adjusting screw pada sistem karburator atau dengan mengatur besarnya tahanan pada variable resistor untuk kendaraan sistem injeksi. Untuk kendaraan yang sudah dilengkapi dengan catalytic tidak diperlukan penyetelan karena sudah secara otomatis diatur oleh komputer berdasarkan oksigen sensor.

2. Waktu pengapian: Dapat dilakukan dengan mengatur posisi rumah distributor (untuk kendaraan yang masih menggunakan distributor) dan untuk kendaraan yang tidak dilengkapi dengan distributor, atau kendaraan yang satu coil-satu silinder atau satu coil untuk dua busi, secara otomatis sudah diatur oleh komputer.

3. Celah katup: Celah katup yang tidak sesuai akan menyebabkan jumlah bahan bakar yang akan masuk ke mesin berlebihan atau malah berkurang. Akibatnya, ada sebagian bahan bakar yang terbuang ke udara luar. Untuk itu kami sarankan penyetelan setiap 10.000 km, atau untuk kendaraan yang sudah dilengkapi dengan valve lifter hydraulic lakukan pemeriksaan lifter apabila timbul bunyi kasar.

Yang juga tidak boleh dilupakan adalah bahan bakar. Pakailah bahan bakar dengan nilai oktan yang sesuai. Pemakaian nilai oktan yang tidak sesuai akan menimbulkan knocking atau keterlambatan pembakaran yang akan mengakibatkan polusi udara.

Kondisi komponen-komponen yang aus atau kotor juga berpengaruh terhadap kandungan emisi gas buang. Komponen yang aus akan berakibat kerja komponen tersebut tidak maksimal. Contoh, busi yang aus akan menghasilkan bunga api yang kecil, sehingga bahan bakar tidak akan terbakar semua. Akibatnya sisa bahan bakar yang tidak terbakar terbuang ke udara luar dan jadilah polusi. Sedangkan komponen yang kotor akan menghambat aliran udara, aliran bensin, dll.

Pengaruh gaya berkendara dengan emisi gas buang juga jelas. Sebab, gaya berkendara menentukan boros tidaknya konsumsi bbm. Semakin boros konsumsi bbm berarti semakin banyak polutan yang dilepas lewat knalpot kendaraan.

Memanaskan Mesin, Bukan Sekadar Kebiasaan
Memanaskan mesin yang biasa kita lakukan sebelum mengendarai mobil memang tindakan yang sangat berguna. Karena pentingnya tindakan ini, wajar bila banyak customer yang mengajukan pertanyaan ke AGUNG AUTOMALL perihal manfaat dan teknis pemasanan yang sebaiknya dilakukan.

Sebetulnya, pemanasan mesin cukup dalam lima menit dan tidak perlu dengan menginjak-injak pedal gas. Untuk mengetahui bahwa kondisi mesin sudah mencapai temperatur kerja bisa juga dengan melihat indikator temperatur di panel dashboard. Biasanya ditandai dengan jarum temperatur yang menunjukkan posisi 1/3 atau 1/2.

Lakukan tindakan ini secara rutin. Diantara manfaat-manfaat pemanasan mesin adalah pembakaran bahan bakar di ruang bakar menjadi sempurna dan mesin akan bekerja optimal. Bahkan, pemanasan mesin juga membantu memperlambat keausan mesin.

Dengan pemanasan, kita memberi kesempatan pada oli untuk bergerak dari panci oli dan masuk kembali ke bagian-bagian mesin yang perlu dilumasi. Sehingga oli siap melancarkan pergesekan antarlogam saat mesin bekerja keras, ini yang membantu mencegah keausan.

Yang juga menarik adalah manfaat pemanasan dalam membuat mesin bekerja seoptimal mungkin. Optimalisasi ini terjadi karena pemanasan mengurangi terjadinya kebocoran kompresi.

Seperti kita ketahui, karena bagian-bagian pada komponen mesin pasti berada pada temperatur tinggi, ada bagian-bagian tertentu yang memang tidak dibuat presisi. Para desainer sengaja menciptakan celah. Dan celah ini secara otomatis akan berkurang (menjadi presisi) ketika komponen-komponen itu terkena suhu panas. Ini yang kemudian mengurangi terjadinya kebocoran kompresi.

Kebocoran kompresi otomatis membuat tekanan kompresi pada mesin menurun. Akibat penurunan tekanan kompresi, temperatur mesin tidak mampu membakar campuran bahan bakar dan udara dengan sempurna. Ketika campuran tersebut tidak terbakar dengan sempurna, tenaga yang dihasilkan mesin pun tidak optimal.

Pembakaran yang tidak sempurna bukan hanya mengakibatkan tenaga mesin kurang optimal. Tapi juga membuat mesin lebih boros bahan bakar. Ini sudah jelas karena dalam kondisi mesin masih dingin, supply bahan bakar harus lebih besar agar tetap terjadi pembakaran.

Mobil Ber-Catalytic, Jangan Panaskan Mesin Terlalu Lama

Di halaman kantor, jalan pinggir sekolah, pasar dan beberapa area yang biasa digunakan untuk parkir sambil menunggu seseorang, sering terlihat ada mobil yang dihidupkan dalam waktu cukup lama. Tujuan pengendaranya, agar AC mobil tetap dapat berhembus sehingga menunggu di dalam mobil tetap terasa nyaman.

Kebanyakan pengendara baru menyadari bahwa kerugiannya hanyalah pada sisi pemborosan bahan bakar. Padahal tidak hanya itu, apalagi bagi mobil yang telah dilengkapi dengan catalytic converter. Jika terlalu panas, komponen yang berfungsi sebagai alat penurun emisi gas buang ini tidak dapat bekerja dengan maksimal. Bahkan, catalytic converter yang kelewat panas dapat memicu kebakaran hebat bila di dekatnya terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar. Kertas, daun-daun kering yang terbang, misalnya.

Secara teknis, sebenarnya pemanasan suhu pada catalytic converter memang disengaja. Itu sebabnya komponen ini ditempatkan setelah exhaust manifold agar terkena imbas dari gas buang mesin yang panas. Pada saat panas itulah catalytic converter dapat berfungsi sebagai katalis dalam mereduksi gas buang (seperti Hidrocarbon, Carbonmonoksida, Nitrogen Oksida).

Meskipun bekerja saat panas, suhu pada catalytic converter tidak diperkenankan melebihi ambang batas yang telah ditentukan (sekitar 400-500 derajat celcius). Suhu komponen ini akan terjaga melalui hembusan angin yang datang akibat mobil yang berjalan. Itu sebabnya, jika mesin ber-catalytic converter dipanaskan dalam waktu lama pada kondisi idle, kenaikan suhunya akan melebihi ambang batas aman. Selanjutnya, catalytic converter membara seperti arang yang siap membakar.

Karena itu, ikutilah buku manual. Di sana tercantum keterangan bahwa jangan memanaskan mesin atau menghidupkan kendaraan dalam kondisi diam lebih dari 20 menit. Sebaiknya pula tidak berhenti dan memarkir kendaraan di atas benda yang mudah terbakar seperti rumput, dedaunan atau tumpukan kertas. Seandainya pun sedang parkir dan menunggu seseorang, jauh lebih baik bila mesin Anda matikan, kunci pintu dan keluar dari mobil.


Langkah Cemerlang Cegah Keluarga Hirup Gas Buang

Coba ingat-ingat lagi kebiasaan Anda dalam memanaskan mesin mobil. Apakah Anda melakukannya di dalam garasi? Di depan atau di sekitar rumah? Kemudian, mari kita perhatikan: selama memanaskan mesin mobil, kira-kira kemanakah gas buang beterbangan? Jangan-jangan polutan yang berbahaya bagi kesehatan ini masuk ke dalam rumah lalu terhirup Anda dan keluarga?

Memanaskan mesin mobil memang salah satu bentuk perawatan mobil. Beberapa diantara manfaatnya, dengan pemanasan kita memberi kesempatan agar mesin mendapat pelumasan secara merata. Selain membuat mesin lebih awet, pengaruh terhadap kinerja pun jelas banyak. Mesin akan lebih prima ketika mobil dijalankan dengan temperatur yang sudah naik.

Berhubung sangat pentingnya aktivitas ini, bahkan (bagi Anda yang memiliki mobil lebih dari dua misalnya), sesekali harus tetap memanaskan mesin mobil meskipun mobil tersebut tidak digunakan untuk berkendara. Tujuannya agar sistem kelistrikan tetap terawat. Terutama accu (baterai).

Kendati demikian penting, bukan berarti Anda harus mengorbankan kesehatan. Jika kurang waspada setiap kali memanaskan mesin mobil, sangat mungkin gas buang masuk ke dalam rumah dan terhirup keluarga Anda. Apalagi, polutan yang terkandung dalam gas buang yang keluar saat mesin idle jauh lebih tinggi ketimbang saat mobil melaju.

Hal itu terjadi karena ketika mesin idle (mobil diam di tempat) maka udara luar yang masuk ke ruang bakar amat terbatas. Ini akan mempengaruhi proporsi campuran bahan bakar dan udara yang sangat menentukan sempurna atau tidak sempurnanya proses pembakaran. Pembakaran yang tidak sempurna berarti kandungan racun pada gas buang yang terlepas ke udara bebas semakin besar.

Seperti kita ketahui, dalam gas buang terkandung polutan seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (Nox) dan sulfur (Sox) serta partikulat debu termasuk timbal (Pb). Polutan ini yang dapat menyebabkan kanker baik pada paru-paru maupun organ lainnya, serta gangguan pernapasan.

Karena itu, usahakan agar gas buang yang keluar dari knalpot mobil Anda tidak mengganggu kesehatan keluarga. Misalnya dengan memperhatikan hembusan angin saat memanaskan mesin mobil. Tutup pintu dan jendela dengan rapat bila arah angin mengarahkan gas buang menerabas ke dalam rumah.

Akan sangat baik lagi bila garasi mobil Anda lengkapi dengan jendela dan exhaust yang membantu gas buang terlepas ke luar rumah. Usahakan pula parkir mobil dengan posisi knalpot mengarah luar. Yang paling efektif, kemungkinan gas buang masuk ke rumah dapat juga diminimalisir dengan langsung menggunakan pipa / selang yang dihubungkan ke knalpot mobil dan diarahkan ke luar garasi.

No comments:

Post a Comment